Perempuan pertama haji, Musim haji di tahun 1933, telah menyimpan banyak cerita tersendiri bagi masyarakat Kota Suffolk, Inggris, khususnya umat Islam. Sebab, pada tahun ini, salah seorang penduduknya pergi ke Tanah Suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Dan hebatnya lagi, ia adalah seorang perempuan, yang bernama Lady Evelyn Zainab Murray Cobbold. Konon katanya, dia merupakan Muslimah yang pertama asal Inggris yang melaksanakan ibadah haji ke Tanah suci. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya itu mememeluk kepercayaan Anglikan, sehingga berita kepergiannya ke Makkah itu membuat kaget seluruh masyarakat Inggris, terutama penduduk Kota Suffolk. Dia juga termasuk dari keluarga bangsawan Suffolk yang sangat memiliki pengaruh besar. Adanya kabar tersebut langsung menghiasi pemberitaan di media-media yang ada di Inggris saat itu. Sejumlah media ynag meliput bahkan menempatkannya sebagai headline di halaman depan.


Perempuan Pertama Asal Inggris Pergi Haji

Saat dia memiliki kesempatan untuk dapat menunaikan ibadah haji pada April 1933, ketika itu berusia 65 tahun. Lady Evelyn mengakui, bahwa dalam ibadah haji itu memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sehari-harinya. Ia juga merasa takjub selama dirinya menunaikan ritual ibadah rukun Islam ini. Dia sebagai perempuan pertama haji asal Inggris.

“Bayangkan saja! Seseorang menceburkan diri ke dalam kelompok manusia dengan jumlah yang sangat besar hingga mencapai jutaan orang dan datang dari segenap penjuru dunia untuk melakukan ibadah suci di Tanah suci. Seluruhnya menceburkan diri ke dalam kolam manusia, lalu dengan segala kerendahan hati, khusyuk dan tunduk secara bersama sambil memuji, membesarkan dan mensucikan Allah,” ungkapnya. Lady Evelyn merupakan perempuan pertama haji asal Inggris.

Dapat mengunjungi negeri yang menjadi tempat awal munculnya agama Islam dan menyaksikan berbagai tempat yang bersejarah dalam perjuangan Rasulullah SAW, yang sehingga menjadi pengalaman yang hebat sepanjang hidupnya.

“Dari pengalaman ibadah ini, saya terdorong untuk melakukan suatu hal yang telah dicontohkan oleh Rasulullah,” jelasnya.

Ia juga melihat dalam ibadah haji ini sebagai sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Perbedaan antara warna kulit dan jarak antara satu dan yang lainnya tidak menjadi suatu penghalang. Segala perbedaan yang ada dalam suku dan mazhab dikesampingkan dahulu saat itu.

“Hal ini merupakan kesatuan akidah umat Islam yang telah menjadi persaudaraan yang kuat, persaudaraan yang telah memberikan inspirasi kepada mereka untuk dapat mewarisi kebesaran nenek moyang mereka,” tuturnya.

Pengalaman selama menjalankan ibadah haji ini, kemudian ia tuangkan dalam sbuah buku yang dirilis pertama kalinya pada 1934 yang berjudul Pilgrime to Mecca. Seiring dengan berjalannya waktu dan usia yang sudah lanjut, perempuan bangsawan asal kerajaan Inggris ini pada akhirnya wafat pada Januari 1963.

lihat juga: 
umroh ramadhan murah
umroh ramadhan murah 2018